pendidikan islam

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Banyak anggapan dunia ilmu pengetahuan adalah dunia kaum laki-laki. Seolah-olah kaum wanita tidak memiliki kontribusi apa-apa dalam bidang ilmu pengetahuan. Padahal dalam sejarah panjang umat manusia, banyak wanita yang berperan penting dalam pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan definisi pendidikan, yakni suatu usaha yang dilakukan individu-individu baik laki-laki maupun perempuan untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan bentuk-bentuk ideal kehidupan dalam meneruskan aktivitas kehidupan secara efektif dan berhasil. Kemajuan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Pendidikan yang baik akan menjadi awal bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Di Indonesia, persepsi tentang pendidikan orang dewasa lebih mengarah pada pendidikan luar sekolah atau pendidikan masyarakat. Proses pendidikan diawali dari lingkungan yang paling kecil, yaitu rumah. Dari sinilah bermulanya kontribusi wanita dalam ilmu pengetahuan. Tidak sedikit ilmuwan yang lahir berkat didikan wanita yang berkualitas sejak masa yang sangat dini di rumah menghasilkan generasi yang berkualitas pula.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka kami menulis makalah ini dengan judul “Peran Wanita dalam Pendidikan” sebagaimana yang berhubungan dengan tujuan pendidikan bahwa tidak saja kaum laki-laki yang mesti menjalankan roda pendidikan, tetapi sebaliknya perempuan ikut andil di dalamnya.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini ialah sebagai berikut:
1. Bagaimana hakikat perempuan?
2. Bagaimana tugas utama seorang perempuan?
3. Seperti apa kesetaraan gender dalam pendidikan?
4. Bagaimana kedudukan perempuan dalam pendidikan?
5. Bagaimana potensi perempuan dalam pendidikan generasi berkualitas?
6. Bagaimana peran wanita dalam pembinaan akhlak anak dalam keluarga?

1.3 Tujuan penulisan
Tujuan penulis membuat makalah ini ialah untuk mengetahui:
1. Hakikat perempuan.
2. Tugas utama seorang perempuan.
3. Kesetaraan gender dalam pendidikan.
4. Kedudukan perempuan dalam pendidikan.
5. Potensi perempuan dalam pendidikan generasi berkualitas.
6. Peran wanita dalam pembinaan akhlak anak dalam keluarga.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Perempuan
Pada hakikatnya, wanita memiliki tugas yang lebih berat dari laki-laki. Wanita adalah sosok multifungsi dia bukan sekedar mampu melahirkan, tapi juga membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Pekerjaan rumah tangga yang menggunung dapat diselesaikan wanita dengan telaten. Dia bisa mengerjakan pekerjaan laki-laki, tapi laki-laki belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan wanita. Wanita kadang disudutkan, tapi dia tetap tabah dan mampu menjalani hidup ini dengan penuh harapan.
Dalam kehidupan ini, perempuan sebenarnya memegang peran yang cukup besar. Namun, peran tersebut bersifat abstrak. Sebagaimana sang pelatih yang mengatur para pemainnya, perempuan pun memiliki peran yang signifikan untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak. Dalam sebuah peribahasa popular Arab, ada sebuah ungkapan, “Sebaik-baik sebuah bangsa ditentukan oleh perempuannya.” Selain itu ada juga ungkapan dalam masyarakat Islam, “Perempuan adalah tiangnya Negara.” Kedua ungkapan di atas memiliki maksud yang sama, yakni eksistensi peran perempuan menjadi simbol peradaban sebuah bangsa.
Perempuan yang merupakan calon dari seorang ibu memiliki peran yang sangat penting. Bahkan salah satu istilah dalam bahasa Arab untuk menyebut kata ibu adalah umm, yang antara lain memilikin makna “sumber”, “asal mula”, dan sebagainya. Jadi, dapat ditarik pesan bahwa seorang perempuan atau ibu adalah sosok yang melahirkan generasi berikutnya. Dalam hal ini kita boleh beranggapan bahwa tidak ada anak yang kemudian tumbuh dan menjadi sukses yang dibesarkan oleh seorang ibu yang sibuk.
Menurut Abuddin Nata, bahwa eksistensi peran dan fungsi pendidikan di Indonesia dalam mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia amat signifikan. Tentu saja hal ini sama sekali tidak bermaksud untuk mendukung pendapat yang membatasi peran perempuan dalam ruang publik. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Setiap anak yang dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci), kemudian orang tuanyalah yang menjadikan ia berkarakter Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” Berdasarkan hadits tersebut bahwa perempuan yang seiring dengan kehidupannya akan menjadi seorang ibu, memiliki peran strategis dalam membentuk karakter kepribadian dan kecerdasan anak.
Pada hakikatnya sekurang-kurangnya ada dua langkah yang harus ditempuh perempuan dalam menjalankan tugasnya, yakni:
1. Memiliki akhlak karimah, bukan hanya dengan keindahan pakaian, kecukupan perhiasan dan hal-hal yang bersifat materi lainnya ketinggian suatu bangsa, kemulian suatu golongan adalah karena akhlak mulia yang dimiliki oleh manusia. Tinggi rendahnya suatu ajaran, bangsa dan golongan sering kali dilihat dari akhlak manusianya.
2. Meningkatkan ilmu dan kecerdasan, bukan dengan kepandaian memoles wajah dengan berbagai alat kosmetika yang makin beragam. Sebagai dengan ilmu dan kecerdasan yang tinggi itulah perempuan muslimah akan terangkat derajatnya. Dan apabila derajatnya sudah tinggi, maka dia juga mampu meninggikan Islam, memperbanyak amal gerak dan perjuangan yang baik sebab dengan amal shaleh itulah seseorang dihormati.

B. Tugas Utama Perempuan
Tugas utama (pokok) seorang perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Ini adalah pandangan yang jernih dan benar terhadap perempuan. Sebab tugas ini hanya dikhususkan kepada perempuan dan terlaksananya tugas ini akan dapat menjamin lestarinya generasi manusia serta menjamin ketenangan hidup individu manusia dalam keluarganya. Lestarinya jenis manusia adalah suatu perkara yang sangat penting, sangat erat hubungannya dengan keberlangsungan kehidupan di dunia ini. Apalah artinya usaha dunia melestarikan lingkungan hidup dan satwa-satwa tanpa memperhatikan kelestarian generasi manusia. Alam ini dan seisinya diciptakan oleh Al Khalik (Pencipta manusia) untuk menopang kehidupan manusia, agar bisa dimanfaatkan olehnya.
Sungguh ironis sekali apa yang dilakukan oleh dunia (khususnya Barat) saat ini, yaitu mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga kelestarian alam, namun disisi lain mengabaikan kelestarian manusia. Bahkan berupaya memusnahkannya (sadar atau tidak sadar). Padahal ini bertentangan dengan naluri manusia itu sendiri. Meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pengharapan, dan sangat meningkatnya pengetahuan telah membawa masalah-masalah baru pendidikan yang telah menimbulkan lebih banyak perubahan dikebanyakan negara dalam dua puluh tahun akhir-akhir ini daripada yang pernah terjadi sebelumnya.
Semua orang baik laki-laki maupun perempuan ingin memiliki keturunan. Mereka akan merasakan kesempurnaan hidup bila sudah memiliki generasi yang bisa meneruskan keluarganya. Maka logis sekali bila pasangan suami-istri yang belum punya keturunan (padahal sudah menikah lama) akan berusaha sekuat tenaga bagaimana supaya bisa menghasilkan keturunan, sekalipun harus dibayar dengan harga yang mahal.
Allah SWT telah menanamkan fitrah ke dalam diri manusia untuk mengembangkan keturunan, agar generasi manusia bisa dipertahankan kelestariannya dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi ini. Dari usaha melanjutkan keturunan ini, Allah telah menetapkan bahwa perempuanlah tempat “persemaian” generasi manusia ini. Hal ini harus kita pahami sebagai fungsi utama perempuan dalam kehidupan ini. Sebab hal yang demikian itu tidak bisa dijalankan laki-laki.
Islam telah menempatkan perempuan dengan tugasnya sebagai ibu sebagai posisi yang mulia, mengingat pentingnya peran ibu dalam keberlangsungan generasi manusia. Tanpa kerelaan dan keikhlasan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama + 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini. Demikian pula dengan kerelaan dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak.
C. Kesetaraan Gender dalam Pendidikan
Harkat dan martabat laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pahala dan siksa memang dinyatakan sama oleh Islam. Akan tetapi, posisi laki-laki dengan perempuan berbeda. Perbedaan posisi ini sejak dahulu menjadi hal yang dipersoalkan oleh kaum perempuan, bahkan pada masa Arab jahiliyah. Ketika Islam mulai membangun masyarakatnya di Madinah, telah muncul tuntutan persamaan posisi antara kaum laki-laki dan kaum perempuan.
Gerakan gender atau emansipasi sebenarnya bukan merupakan gerakan modern, melainkan gerakan zaman jahiliyah pra-Islam yang mengimginkan kesetaraan posisi laki-laki dengan perempuan, padahal sebagaimana yang kita ketahui bahwa posisi laki-laki lebih tinggi daripada posisi perempuan dalam memegang kepemimpinan, baik dalam keluarga, masyarakat, pemerintah, maupun negara.
Para aktifis gender atau emansipasi dan para pendukungnya tentu sangat keberatan disebut sebagai penerus gerakan wanita jahiliyah pada zaman pra-Islam. Demikianlah karena justru pada zaman jahiliyah tersebut kaum perempuan sama sekali tidak mendapatkan hak dalam hamper semua aktivitas kehidupan manusia, bahkan anak perempuan dikubur hidup-hidup.
Terhadap sikap keberatan seperti itu, kita dapat memberikan penjelasan yang logis dan mudah, yaitu justru karena kaum wanita mengalami penindasan yang hebat, muncullah keinginan yang kuat untuk melakukan perlawanan dan menuntut persamaan hak dan posisi 100 persen sama dengan kaum laki-laki. Ketika merasa ada peluang untuk mengajukan tuntutan tersebut, mereka mencoba melakukannya. Peluang itu terbuka ketika masyarakat Islam Madinah mulai terbentuk, sehingga mereka merasa telah tiba saatnya untuk memperjuangkan persamaan gender secara mutlak pada waktu wahyu masih turun kepada Nabi Muhammad Saw untuk mendapatkan kepastian penyelesaiannya dari Allah.
Orang-orang yang sekarang beramai-ramai menyuarakan tuntutan persamaan mutlak perempuan dengan laki-laki dengan mencoba memutar balik ayat Al-Qur’an dari pengertian yang sebenarnya agar dapat dijadikan sebagai dalih yang sangat manipulatif membenarkan gerakan dan ideologinya, sebenarnya telah melakukan gerakan mundur 1500 tahun yang lalu dan mencerminkan sikap dan cara berpikir jahiliyah, bukan sikap dan cara berpikir modern yang mengerti dan menghayati sunnah thabi’iyyah yang berlaku dalam kehidupan masyarakat manusia yang bersih dan sehat.
Adapun kesetaraan gender dalam pendidikan antara laki-laki dan perempuan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dengan pembangunan karena keberhasilan pembangunan merupakan kontribusi pendidikan yang berkualitas baik dari kaum laki-laki maupun dari kaum perempuan. Ketidaksetaraan pada sektor pendidikan telah menjadi faktor utama yang paling berpengaruh terhadap ketidaksetaraan gender secara menyeluruh. Hal ini sesuai latar belakang pendidikan yang belum setara antara laki-laki dan perempuan menjadi faktor penyebab ketidaksetaraan gender dalam semua sektor seperti lapangan pekerjaan, jabatan, peran dimasyarakat, sampai pada masalah menyuarakan pendapat. UUD 1945 mengamanatkan, bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam pembangunan, termasuk pembangunan dibidang pendidikan.

D. Peran Perempuan dalam Pendidikan
Pada Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang memuat pasal-pasal yang mendukung kesetaraan pendidikan yang menjamin hak perempuan untuk memperoleh pendidikan, dalam pasal 48: “perempuan berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran di semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan”. Pada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa sistem pendidikan harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.
Peningkatan taraf pendidikan dan hilangnya diskriminasi gender dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan dan ikut menentukan kebijakan dibidang ekonomi, sosial dan politik. Semakin tinggi tingkat pendidikan perempuan diharapkan akan semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia. Perempuan yang berpendidikan tinggi mampu membuat keluarganya lebih sehat dan memberikan pendidikan yang lebih bermutu pada anaknya. Selain itu perempuan berpendidikan tinggi memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sebaliknya, perempuan yang pendidikannya rendah akan lebih rentan dan ekonomi yang cenderung lebih rendah.
Dalam perspektif agama, kaum perempuan (ibu) tidak dilarang untuk bekerja di luar rumah terutama dalam bidang pendidikan. Dalam Islam, kita mengenal para istri Rasulullah Saw yang terkenal dengan keterampilannya diberbagai bidang. Aisyah terkenal sebagai ulama dan perawi hadits yang disegani, Saudah mahir dalam hal kerajinan tangan, dan bahkan Khadijah sukses dalam menggeluti bisisnya. Namun, mereka tetap mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, tidak mengorbankan peran domestiknya. Hal ini mengisyaratkan bahwa peran publik seorang perempuan bukan menjadi penghalang untuk memaksimalkan peran ibu sebagai pencerah peradaban melalui lingkungan keluarga.
Adapun hal terpenting yang dicermati kaum perempuan ialah dalam kejelian untuk memilih profesi yang memungkinkannya untuk tetap mampu menjadi jati diri seorang perempuan dan atau bahkan menjadi ibu yang lembut bagi anak-anak dan istri yang setia terhadap suami, walaupun sibuk meniti karier dipanggung publik. Hanya saja, kaum pria mestinya tidak bersikap arogan dengan mempersempit ruang gerak kaum perempuan disektor publik, tetapi harus mau memberikan legitimasi terhadap kemampuan dan kekuatan internal kaum perempuan.
Mitos konco wingking yang memposisikan kaum perempuan sebagai makhluk kelas dua harus dibebaskan. Perlu keberanian kaum pria untuk mengakui posisi dan martabat kaum perempuan sebagai mitra yang benar-benar sejajar dengan dirinya. Sudah bukan saatnya lagi pembagian peran semata-mata didasarkan pada bias gender, melainkan pada tingkat kapabilitas dan kredibilitasnya dalam mengakses peran.
Untuk melaksanakan profesinya, tenaga pendidik perempuan khususnya guru sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan keguruan yang memadai dalam arti sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan sains dan teknologi. Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan juga calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan dengan pendekatan baru yang erat kaitannya dengan proses belajar dan mengajar dalam suasana zaman yang berbeda dan penuh tantangan seperti sekaraang ini.
E. Potensi Perempuan dalam Pendidikan Generasi Berkualitas
Munculnya berbagai masalah dan isu-isu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia, fenomena kekerasan, realitas multibudaya-etnik dan agama, lingkungan hidup, perdamaian dunia dan penyalahgunaa narkotika serta persaingan yang tidak sehat antar pelajar, membuat para ahli pendidikan berpikir keras mencari sistem pendidikan yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Untuk menjawab persoalan tersebut, tak dapat dipungkiri lagi bahwa peran perempuan sangat besar artinya dalam pembentukan generasi di masa datang, mengingat besarnya peluang dan kesempatan perempuan (seorang ibu) berperan mengawali proses pendidikan anak-anaknya sejak dini. Potensi dan kemampuan para perempuan muslimah sangat berpengaruh besar membentuk warna dan corak generasi umat dimasa datang.
Perempuan yang lemah, bodoh dan berperilaku buruk akan menghasilkan generasi yang warnanya tidak jauh berbeda dengan dirinya. Sebab di masa awal, anak mendapatkan teladan yang buruk untuk membentuk eksistensi dan kepribadian dirinya. Anak akan menyerap informasi dan perilaku apapun yang ada didekatnya tanpa bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya kalau perempuannya pintar (menguasai tsaqofah Islam), cerdas, kreatif, berperilaku baik serta berkepribadian Islam yang tinggi, maka warna dasar di masa datang akan baik. Bahkan kalau perannya berjalan optimal, perempuan seperti ini akan mampu membentuk generasi yang tangguh, yang tidak terombang-ambing oleh ombak kehidupan. Mereka akan tetap mampu bertahan dan berdiri dengan tegar serta kokoh prinsip hidupnya, apapun kondisi yang menghadangnya.
Seorang ibu harus mampu mendidik anak-anaknya dengan landasan rasa cinta dan kasih sayang yang benar, sehingga anak-anaknya pun akan mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang benar pula terhadap orang tua dan keluarganya. Rasa cinta dan kasih sayang yang benar adalah yang mendahulukan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Dengan demikian rasa cinta pada anak tidak akan menghalangi seorang ibu untuk mendidik anaknya menjadi mujahid yang rela mengorbankan jiwanya untuk Islam. Demikian pula seorang anak tidak terhalangi mengorbankan miliknya yang paling berharga untuk memperjuangkan tegaknya Islam, sekalipun harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.
Dengan demikian agar peran perempuan muslimah dalam pendidikan generasi di masa datang bisa optimal untuk menghasilkan generasi para mujahid tangguh, politikus ulung dan para mujtahid, maka proses pembinaan para perempuan muslimah tidak boleh dicukupkan alakadarnya apalagi diabaikan. Para perempuan muslimah harus dibina dengan baik secara mapan atau mendalam, sehingga dia mampu mengarahkan dan bahkan mendidik anak-anaknya menjadi generasi-generasi yang diharapkan mampu berperan meraih kejayaan Islam kembali dan menjadi guru terbaik bagi anak-anaknya, sehingga anak-anaknya kelak dimasa yang akan datang menjadi pilar-pilar umat.
F. Peran Wanita dalam Pembinaan Akhlak Anak dalam Keluarga
Wanita selaku orang tua merupakan cermin bagi anak-anak di dalam keluarga. Anak-anak cenderung meniru apa yang ia lihat dan temukan dalam keluarga sebab anak diibaratkan bagaikan radar yang akan menangkap segala macam bentuk sikap dan tingkah laku yang terdapat dalam keluarga. Jika yang ditangkap radar anak tersebut adalah hal-hal buruk, maka ia akan menjadi buruk meskipun pada hakikatnya anak dilahirkan dalam keadaan suci.
M. Ngalim Purwanto MP menyatakan bahwa nyatalah betapa berat tugas seorang wanita (ibu) sebagai pendidik dan pengatur rumah tangga. Baik buruknya pendidikan seorang wanita (ibu) berpengaruh besar terhadap perkembangan dan watak anaknya dikemudian hari.
Tidak bisa dipungkiri bahwa anak belum bisa mengekspresikan dengan kata-kata apa yang ia rasakan. Akan tetapi, sejak hari pertama kelahirannya, anak sudah dapat merasakan kasih sayang orangorang di sekelilingnya. Ia merefleksikan kasih sayang yang ia rasakan dengan senyuman. Menurut Banu Garawiyan, kasih sayang merupakan “makanan” yang dapat menyehatkan jiwa anak. Secara alamiah makanan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup. Tanpa adanya makanan, tentunya hidup seseorang tidak sempurna. Kasih sayang merupakan kebutuhan yang asasi juga bagi kehidupan seseorang. Dengan kasih sayang, aspek kejiwaan anak berkembang dengan baik karena ia merasa diterima di dalam komunitasnya, baik itu di lingkungan keluarga maupun masyarakat sehingga ia pun bisa memberikan kasih sayang kepada orang lain berdasarkan pengalaman hidup yang ia jalani.
Lebih lanjut lagi, seorang anak belajar bagaimana cara memberikan kasih sayang terhadap sesame dari dalam lingkungan keluarga. Perasaan marah dan kasih sayang seorang anak diwarnai dari rumah dan tempat tinggalnya. Berbagai macam perasaan dan sikap yang menjadi dasar dalam berinteraksi dan berhubungan dengan sesama manusia berawal dari lingkungan rumah tangga. Pengalaman-pengalaman tersebut akan tertanam kuat dalam jiwanya sehingga segala perilakunya dalam menyikapi perkara yang baik atau yang buruk, ego, dan kecenderungannya semuanya tergantung dan bersumber dari kondisi kehidupan rumah tangga.
Wanita yang menjadi salah-satu unsur dalam keluarga merupakan penentu arah sikap dan perilaku anak pada masa mendatang. Muhammad Taqi Falsafi menyatakan bahwa lingkungan keluarga merupakan sekolah yang mampu mengembangkan potensi tersembunyi dalam jiwa anak dan mengajarkan kepadanya tentang kemuliaan dan kepribadian, keberanian dan kebijaksanaan, toleransi dan kedermawanan, serta sifat-sifat mulia lainnya.
Apabila aspek emosional anak telah terbina, maka akan muncul suatu keterikatan secara psikis antara orangtua dan anak. Keterikatan tersebut akan menuntun anak merasakan cinta, kasih sayang, perhatian, dan perlindungan mereka terhadapnya, serta anak juga akan mencintai orangtua dan anggota keluarga. Dengan demikian, anak bisa memfungsikan aspek emosinya secara positif sebab atmosfir yang sarat dengan rasa saling mencintai dalam kehidupan keluarga merupakan faktor penting dalam membentuk kematangan kepribadian anak dan agar ia merasa damai, percaya diri, dan bahagia.
Tugas pendidikan emosional anak dengan cara menciptakan suasana keluarga yang “kondusif” merupakan tanggung jawab kedua orangtua. Tugas tersebut tidak bisa digantikan oleh siapapun, terutama peranan seorang ibu dalam mendidik aspek psikis anak. Dengan keberadaan dan pengasuhan serta kasih sayangnya dapat memberikan influensi yang signifikan dalam membentuk kepribadian dan spiritual anak.
Selain ibu, peran pembentukan kepribadian anak juga dipengaruhi oleh fungsi ayah itu sendiri. Shapiro menyatakan, banyak anak yang menderita karena dibesarkan oleh ayah yang secara fisik hadir di tengah keluarga, tetapi secara emosional tidak pernah ada. Si ayah tidak bereaksi terhadap kebutuhan anak-anak akan perhatian, kasih sayang, dan keterikatan. Jika anak menuntut kepedulian sang ayah, mereka diabaikan atau dihukum. Kondisi ini akan memicu tumbuhnya penghargaan diri yang rendah dan rasa takut ditolak dalam diri si anak.
Suasana “kondusif” dalam keluarga akan tercipta jika orangtua tahu posisi masing-masing. Posisi keduanya dalam keluarga seperti miniatur yang akan dilihat dan ditiru oleh si anak. Berhasilnya orangtua dalam mendidik emosi anak tergantung pada suasana kehidupan keluarga yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, keluarga memberikan pengaruh, baik itu yang positif maupun yang negatif, pada perkembangan emosional anak. Orangtua perlu menyadari akan pentingnya keharmonisan dalam rumah tangga dan juga perlu peka terhadap kebutuhan psikis anak, yaitu ketenangan jiwa.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah yang kami buat ialah bahwasannya dalam perspektif agama, kaum perempuan (ibu) tidak dilarang untuk bekerja di luar rumah terutama dalam bidang pendidikan. Adapun hal terpenting yang dicermati kaum perempuan ialah dalam kejelian untuk memilih profesi yang memungkinkannya untuk tetap mampu menjadi jati diri seorang perempuan dan atau bahkan menjadi ibu yang lembut bagi anak-anak dan istri yang setia terhadap suami, walaupun sibuk meniti karier dipanggung publik.
Selain itu, di dalam keluarga wanita merupakan penentu arah sikap dan perilaku anak pada masa mendatang mengaingat lingkungan keluarga merupakan sekolah yang mampu mengembangkan potensi tersembunyi dalam jiwa anak dan mengajarkan kepadanya tentang kemuliaan dan kepribadian, keberanian dan kebijaksanaan, toleransi dan kedermawanan, serta sifat-sifat mulia lainnya.

3.2 Saran
Demikian makalah ini kami susun. Terima kasih atas antusias dari pembaca yang telah sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi kelompok kita pada khususnya juga para pembaca yang dirahmati Allah Azza wa Jalla. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghifari, Abu, Wanita Ideal Dambaan Pria Sejati, Bandung: Mujahid Press, 2002.
Garawiyan, Banu, Memahami Gejolak Emosi Anak, Bogor: Cahaya, 2002.
Lee Shapiro, Jerold, The Good Father: Kiat Menjadi Ayah Teladan, Bandung: Kaifa, 2003.
Najati, M. Ustman, Belajar EQ & SQ dari Sunnah Nabi, Bandung: Hikmah, 2002.
Nata, Abuddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 2003.
Purwanto MP, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.
Qaimi, Ali, Menggapai Langit Masa Depan Anak, Bogor: Cahaya, 2002.
Sayani, Musthafa, Kemuliaan Wanita Shalihah, Bandung: Pustaka Ramadhan, 2007.
Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta: Paramadina, 2001.
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Taha Sabir, Khairiyah Husain, Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim Jakarta: Firdaus, 2001.
Taqi Falsafi, Muhammad, Anak Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan, Bogor: Cahaya, 2002.
Thalib, Muhammad, 17 Alasan Membenarkan Wanita menjadi Pemimpin dan Analisisnya, Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2001.
Vaizey, John, Pendidikan di Dunia Modern, Jakarta: Gunung Agung, 1982.
Yurita, Lidia, Mukjizat Doa Ibu, Jogjakarta: DIVA Press, 2009.

http://buletin.alkhoirot.com/2011/06/peran-perempuan-dalam-pendidikan.html
http://samsulbae.blogspot.com/2013/01/peran-wanita-dalam-pendidikan-islam.html
http://puslit.kemsos.go.id/upload/post/files/bbd6c378095e1ce3e45398f3789b5bc6.pdff
http://www.angelfire.com/md/alihsas/dunia.html